6 Riset Wacana Memaafkan

Untuk keselamatan dan kesejahteraan, kita mungkin menentukan menjauhkan si pelaku kejahatan dari kehidupan kita dan masyarakat.

Mengampuni berarti melaksanakan hal menyerupai itu dalam damai, tak lagi mengharapkan mereka menderita atau membalas dendam terhadap mereka.

Bagi kita, menyimpan amarah dan kepahitan berarti memberi si pelaku kejahatan daya atas hidup kita. Sementara membiarkan emosi negatif itu pergi membebaskan hidup kita secara psikologi.

1. Memaafkan menciptakan Anda lebih senang dan sehat
Banyak studi membuktikan, orang yang memaafkan lebih senang dan sehat. Menahan amarah sanggup merusak kesehatan. Bila tak memaafkan, badan kita mengeluarkan banyak hormon stres kortisol setiap kali kita memikirkan insiden menyakitkan itu. Merenungkan kerusakan yang disebabkan insiden itu sanggup meningkatkan tekanan darah dan membebani jantung.

Dalam jangka panjang, hal ini sanggup menciptakan kita jadi rentan kena penyakit dan menciptakan perhatian menjauhi kesehatan dan kebahagiaan di masa sekarang. Kita juga malah jadi kurang percaya dan tak suka berafiliasi dengan orang-orang yang membawa cinta dan kesenangan.

2. Waspadai "Efek Keset"
Manfaat memaafkan dalam korelasi bersahabat menyerupai contohnya suami istri bergantung pada bagaimana si pelaku kejahatan merespon maaf tadi. Bila beliau terus tak mengabaikan atau tak menghormati Anda, usang kelamaan Anda bakal menyerupai keset yang bakal merendahkan harga diri.

Riset pada pasangan pertanda dikala salah satu tidak mengubah atau mengatakan penyesalan, pemaafan dari pasangan bekerjsama merendahkan harga diri orang yang memaafkan. Maaf sanggup meningkatkan harga diri pada mereka yang pasangannya bertanggung jawab dan berusaha mengubah perilaku.

3. Kurangnya pengampunan menggerus rasa kemitraan
Orang bijak pernah berkata,"Pernikahan senang yaitu penyatuan dua orang pemaaf yang baik." Setiap orang kadang mengacau keadaan dan sebaiknya hal-hal kecil dimaafkan daripada bermetamorfosis siklus negatif.

Riset pertanda pasangan yang tak mau berguru memaafkan, cenderung berlomba dan memfokuskan diri menjadi pihak yang "benar" dan memenangkan perdebatan daripada bekerja sama menuntaskan masalah.

4. Intensi dan tanggung jawab menciptakan perbedaan
Praktis bagi kita memaafkan seseorang yang tak menyadari diri mereka menyebabkan kekacauan daripada seseorang yang secara sengaja melukai orang lain. Juga, kalau kita melihat tindakan itu lantaran hal-hal di luar dugaan, bukan pilihan pribadi, kita pun lebih gampang memaafkan.

Lebih gampang memaafkan teman atau rekan kerja yang terlambat dikala tahu mereka terhambat kecelakaan di tengah jalan. Untuk berguru memaafkan, pikirkan keadaan di luar dugaan yang menyebabkan sikap buruk. Apakah orang itu berada di bawah tekanan, mendapat salah informasi, diintimidasi orang lain atau sakit jiwa? Apakah mereka pernah diabaikan atau disiksa dikala masih kecil? Kendati kondisi ini tidak menghilangkan kerusakan yang disebabkan mereka, kondisi itu mungkin membantu Anda merasa punya tenggang rasa terhadap si pelaku kejahatan sehingga Anda tak menganggap kejahatan itu sepenuhnya sikap jelek mereka.

5. Emosi ikut terlibat
Studi pada pemindaian otak pertanda pusat-pusat emosi dalam sistem limbik menyala dikala kita mempertimbangkan untuk memaafkan orang lain. Riset pertanda emosi negatif secara umum menyerupai amarah dan perasaan terluka menciptakan kita sulit memaafkan.


6. Memilih memaafkan yaitu tindakan pemberdayaan
Memaafkan tidak berarti melupakan atau bahkan membiarkan sebuah tindakan tidak dihukum. Kita mungkin mengampuni seseorang secara emosi tetapi masih merasa mereka perlu mendapat konsekuensi perbuatan mereka. Atau kita mungkin masih mencicipi kebutuhan melindungi orang-orang yang bakal jadi korban selanjutnya.

sumber: kompas.com

Related : 6 Riset Wacana Memaafkan

0 Komentar untuk "6 Riset Wacana Memaafkan"