Kamera mahal, gengsi atau perlu

Sekarang ini pasar kamera babak belur, yang masih lumayan penjualannya adalah Bridge Camera yang bentuknya mirip DSLR, tetapi lensa zoomnya tak dapat dilepas dan juga MILC atau Mirrorless Interchangeable Lens Camera yang lensanya dapat diganti-ganti, tetapi tak memiliki cermin reflex bergerak seperti DSLR. Beberapa orang telah beralih dari DSLR ke MILC, karena DSLR-nya macet cermin reflexnya, padahal ini adalah bagian yang membedakan DSLR dengan kamera lainnya. Harga MILC hampir menyamai DSLR, tetapi pilihan lensanya sedikit.

Umumnya berturut-turut dari harga yang paling mahal adalah DSLR, MILC, Bridge Camera kemudian baru Kamera Kompak, tetapi sekarang ini ada saja Kamera Kompak, Bridge Camera dan MILC yang lebih mahal daripada DSLR, karena tidak semua DSLR berkualitas baik walaupun bermerek Nikon atau Canon sekalipun.

Apakah kamera mahal selalu berkualitas, jawabannya secara teori yaa, tetapi tergantung pemakaiannya, yaa orangnya dan yang terpenting menggunakan zoom tidak?
Kamera DSLR Fullframe dengan kualitas sensor terbaik Nikon D800E dengan lensa Nikon AF-S Nikkor 24-70mm  f/2.8G ED mendapat Camera Lens Rating score dari DxOMark http://www.dxomark.com/Lenses/Ratings 30, sedangkan DSLR APS-C (yang luasnya sensor hanya 43 persen dari Fullframe) Nikon D3300 dengan lensa Sigma 35mm F1.4 DG HSM A NIKON mendapatkan score 32 dan dengan lensa Nikon AF-S DX Nikkor 35mm f/1.8G mendapat score 27.
Jadi pemakaian zoom (walaupun hanya 3x) di kamera terbaikpun hasilnya tidak memuaskan jika dibandingkan dengan pemakaian lensa fokus tunggal. Sekarang ini banyak yang mengunakan kamera mahal dengan lensa zoom yang panjang untuk gagah-gagahan/gengsi, sudah dapat dipastikan hasil fotonya jelek. Apalagi kalau lensa zoom itu sampai lebih dari 10x, hasil fotonya akan jelek sekali. Orang menggunakan lensa zoom karena kepraktisannya dan juga irit biaya dibandingkan menggunakan beberapa lensa berfokus tunggal. Tetapi kalau sudah berani beli kamera mahal, mengapa harus mengirit dengan mengorbankan kualitas.

Bicara kepraktisan, maka Bridge Camera-lah yang paling praktis. Dengan lensa yang tak dapat diganti-ganti dan zoom hingga 60x lebih, maka dari segi biaya yang murah dimana harganya berkisar dari Rp2 juta hingga Rp10.5 juta, maka DSLR tak dapat melawannya apalagi untuk lensa yang 60x lebih. Kualitas foto Bridge Camera tentu tidak sebaik DSLR dengan lensa fokus tunggal, tetapi jika sama-sama menggunakan zoom, maka perbedaan hasil fotonya sangat tipis, apalagi jika berfoto di luar ruangan dengan cahaya matahari yang melimpah seperti di Indonesia. Pada ruangan yang gelap/redup, DSLR masih menunjukan kelebihannya dengan kemampaun ISO-nya yang lebih baik, karena memiliki sensor yang lebih besar. Bridge Camera masih menunjukan hasil foto yang baik dengan ISO maksimum 200 atau 400.

Panasonic Lumix FZ1000 adalah Bridge Camera yang menggunakan sensor 1 inci (luasnya 31 persen sensor APS-C) dan zoomnya hanya 16x. Kualitas sensor Panasonic Lumix FZ1000 menurut DxOMark http://www.dxomark.com/Cameras/Ratings hampir menyamai kualitas sensor kamera Canon APS-C terbaik Canon EOS 7D Mark II dan Canon EOS 70D serta sama kualitasnya dengan sensor kamera Canon EOS M2 dan Canon EOS 1200D. Harga kamera Panasonic Lumix FZ1000 kurang dari $850, bayangkan harganya jika menggunakan DSLR dengan 16x zoom.

Saat ini beberapa fotografer profesional, semi-profesional maupun amatir lanjut banyak yang sudah menggunakan Bridge Camera, bahkan sudah ada yang menjual DSLRnya dengan segala macam lensanya dan menggunakan Bridge Camera saja, walaupun mengakui hasil terbaik masih akan didapatkan dengan DSLR. Bridge Camera sangat cocok sebagai kamera kedua pendamping DSLR dan mungkin menjadi kamera pertama pemotretan alam bebas. Beberapa fotografer profesional yang sudah sepuh kini mulai menggunakan Bridge Camera dan mengurangi penggunaan DSLR, bahkan mereka mengatakan 80 persen hasil foto mereka didapatkan dari penggunaan Bridge Camera.

Related : Kamera mahal, gengsi atau perlu

0 Komentar untuk "Kamera mahal, gengsi atau perlu"