Selaku masinis, Naslam sudah sudah biasa mengemudikan rangkaian kereta ketel westinghouse (KKW) tersebut. Sementara Naslam menyalakan mesin CC20146, Sugiarto (52) dan Tjawan (52), dengan teliti menilik bogie rengkaian KKW, tak terkecuali rantai pengait antar gerbong. Keduanya memsatikan jangan hingga ada baut yang longgar, kebebasan suatu baut dapat berakibat fatal pada perjalanan sepanjang 135 kilometer tersebut.
Tepat pukul 11.00, rangkaian KW Pertamina itu perlahan-lahan
“Selama 24 tahun, saya bertugas di Cilacap mengerjakan lokomotif D301. Saya mengawali karir
Sepanjang perjalanan itu, Naslam tidak sedikit pun melepaskan persepsi ke arah jendela depan lokomotif. Setiap mendekati darerah perlintasan, Naslam dan tangan kanan masinisnya yang duduk di segi kiri kabin bergantian membunyikan klakson lokomotif. Laju rangkaian KA itu pun sedikit diperlambat bila mendekati perlintasan maupun kelokan-kelokan lintasan yang berdekatan dengan pemukiman penduduk.
Memasuki tempat Linggapura, curahan air hujan mulai membasahi badan KKW. Mau tak mau, Naslam mesti lebih berhati-hati mengemudikan lokomotif diesel produksi General Electric itu, wiper lokomotif yang tak berfungsi dengan baik menghasilkan Naslam dan asistennya mesti sungguh-sungguh cermat memperhatikan lintasan rel yang dilalui.
“Menjadi masinis banyak suka maupun dukanya. Kalau menjadi masinis KA barang, kami haru
Tiba di stasiun Karangsari, KKW Pertaminha yang dikemudikan Naslam berhenti sesaat. Tampak dibelakang lokomotif, Sugiarto dan Tjawan berlangsung dari arah belakang rangkaian hingga ke bersahabat lokomotif untuk menganalisa keadaan pengait antar gerbong. Selaku kondektur pemimpin (KP) selama perjalanan itu, Sugiarto bertanggung jawab kepada kesiapan teknis rangkaian KA dari stasiun keberangkatan hingga di tempat tujuan.
Pengalaman berlangsung kaki itu pernah dicicipi Sugiarto di saat lokomotif KKW itu gadat di bersahabat jembatan Bumiayu, ia terpaksa berlangsung kaki menyusuri lintasan rel sekitar lima kilometer meraih stasiun terdekat. Jarak itu mau tidak mau ditempuhnya, mengingat lokasi lokomotif mogok itu kebetulan jauh dari jalan raya.
Baik Sugiarto maupun Tjawan selama perjalanan siang itu mesti selalu berada di gerbong KKW. Jangan bayangkan gerbong KKW itu layaknya gerbong penumpang. Tanpa atap peneduh dan dinding, keduanya bangun maupun duduk di lantai gerbong sembari terik matahari dan curahan hujan menghujam badan mereka.
Tjawan selaku petugas rem dalam rombongan itu dituntut dilarang lengah sedikit pun. Meski hujan deras, telinganya mesti was-was padamendengarkan menjelaskan dari masinis melalui lengkingan klakson lokomotif. Salah mengartikan menjelaskan yang didengar, dapat berakibat kecelakaan fatal pada keseluruhan rangkaian ular besi itu.
Tulisan diambil dari:
Kompas edisi Jawa Tengah, 10 Maret 2005
0 Komentar untuk "Harga Bbm Naik, Pamor Kereta Pengangkut Bbm Tak Pernah Naik"